Arkib bagi Hari 4 Mac 2007
Metode Mengajar Yang Jitu
Setiap Guru hendaknya menempuh metode pendidikan yang jitu sesuai dengan apa yang diajarkan dalam Al Qur’anul karim dan as Sunnah Nabawiyah, karena para guru ikut berpartisipasi dalam menyiapkan generasi muslim pada masa yang akan datang. Harapan kita adalah hadirnya generasi muslim yang dengan aqidah yang lurus, tangguh, berakhlaq mulia, yang bersih dan berani dalam rangka membela agama dan ummatnya.
Adapun metode jitu yang InsyaAlloh dapat diupayakan oleh para guru dalam mendidik generasi muda muslim adalah sebagai berikut:
Menanamkan Rasa Takut (khauf) dan berpengharapan (raja’)
Para guru harus menanamkan rasa takut kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala ke dalam jiwa anak-anak didiknya sebab Alloh Subhanahu wa Ta’ala sangat hebat siksanya kepada orang-orang yang durhaka kepadanya. Yaitu Orang-orang yang meninggalkan apa-apa yang diwajinkanNya. Sesungguhnya Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan ancaman terhadap orang-orang yang durhaka (maksiat), bahwa mereka akan dibakar didalam neraka pada hari kiamat, padahal neraka jauh lebih panas dari pada api di dunia.
Tetapi sebaliknya Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah menjanjikan kepada kaum mu’minin yang taat menjalankan kewajibannya, memenuhi hak-haknya Alloh Subhanahu wa Ta’ala dengan surga yang luas. Di dalamnya terdapat sungai-sungai, pohon-pohon, buah-buahan, bidadari-bidadari cantik dan berbagai kenikmatan di dalamnya.
Dalil bagi adanya keterpaduan antara rasa khauf (takut) dan raja’ (pengharapan), serta rasa senang dan cemas.
Kisah-Kisah
Kisah mempunyai pengaruh yang kuat terhadap jiawa, maka seorang pendidik selayaknya memperbanyak kisah-kisah yang bermanfaat. Dan itu banyak sekali terdapat dalam Al Qur’an dan Sunnah yang suci. Diantaranya:
-
-
-
-
Kisah Ashabul Kahfi (penghuni surga), bertujuan untuk membentuk generasi yang beriman kepada Allah, cinta kepada tauhid dan benci kepada kemusyrikan.
-
Kisah Nabi Isa , bertujuan unutk menjelaskan bahwa ia adalah hamba Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan bukan Anak Alloh Subhanahu wa Ta’ala sebagaiman anggapan kaum nasrani.
-
Kisah Yusuf, diantara tujuannya adalah untuk mengingatkan agar jangan sampai terjadi pergaulan campur aduk antara laki-laki dan perempuan sebab akan memberi akibat yang sangat jelek
-
-
-
Kisah Yunus, bertujuan agar kita selalu beristianah (meminta pertolongan) hanya kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala saja, lebih-lebih ketika di timpa musibah. Kisah orang-orang yang terperangkap dalam gua. Diambil hikmahnya yaitu agar kita hanya bertawasul kepada Allah dengan amal-amal shalehnya. Seperti membantu orang tua, menjauhi zina karena Alloh Subhanahu wa Ta’ala, dll.
-
Singkat kata , sebagai seorang guru harus mampu memberi teladan yang baik diantara dengan memberi kisah-kisah yang mulia dan jangan justru memberi kisah-kisah yang jelek yang memacu anak didik untuk berbuat tidak baik.
Sumber: www.mediamuslim.info
Islam adalah peraturan hidup yang sempurna
Islam mengatur berbagai aspek kehidupan manusia baik di bidang ekonomi, politik, kebudayaan, sosial dan lain-lain. Juga menggariskan metode yang benar dan tepat untuk memecahkan kesulitan dalam bidang-bidang tersebut. Islam berusaha mengatur kehidupan manusia. Unsur pokok dalam hal ini adalah mengatur waktu. Islam merupakan satu-satunya ajaran yang paling kuat untuk dapat membahagiakan manusia di dunia dan akhirat.
Islam sebelum menjadi syari’at (peraturan Alloh) adalah sebagai kepercayaan atau keyakinan (bahwa Allah adalah sembahan yang hak). Karena Rasul Alloh memusatkan upayanya di Makkah terhadap hal tauhid, baru setelah hijrah ke Madinah, mendirikan negara dan menerapkan/mempraktekkan syari’at Islam.
Islam menganjurkan untuk mencari ilmu pengetahuan dan kemajuan ilmu yang bermanfaat. Pada abad pertengahan muncul tokoh-tokoh ilmu modern dan ilmu agama dari kalangan Islam seperti Al-Haitami, Al-Bairuni dan lain-lain.
Islam menghalkan harta yang diperoleh dengan cara yang halal yaitu yang tidak ada penindasan, penipuan serta mengutamakan harta yang halal itu hendaknya dimiliki oleh orang-orang shaleh, yang mau memberikan hartanya kepada orang kafir dan untuk perjuangan agar terealisir keadilan sosial di kalangan umat Islam.
Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, yang artinya: “sebaik-baik harta ialah harta yang halal ntuk orang yang shaleh.” (HR: Ahmad).
Ada orang yang mengatakan bahwa tidak mungkin harta itu dicari dengan cara yang halal saja. Pendapat ini tidak benar dan tidak mempunyai dasar sama sekali. Islam agama perjuangan dan mencari ketenangan hidup. Karenanya ia mewajibkan seorang muslim untuk mengorbankan harta dan jiwa untuk menegakkannya. Ia menghendaki agar manusia hidup tenang dalam naungan Islam dan lebih mementingkan urusan akhirat daripada dunia.
Menghidupkan fikiran Islam yang bebas dalam batas-batas yang tidak bertentangan dengan norma-norma Islam seperti menghilangkan kebekuan berfikir dan membuang sisipan fikiran yang menodai fikiran Islam yang murni dan menghalangi kemajuan umat Islam seperti masalah-masalah bid’ah, takhayul dan hadits palsu.
Sumber: www.mediamuslim.info
Adab Muslim dalam Berkomunikasi Melalui Telepon
Dalam memanfaatkan teknologi yang ada sekarang ini, tentunya seorang muslim tetap merujuk pada tuntunan syariat Islam yang sempurna dan mulia. Salah satunya adalah dalam penggunaan media komunikasi seperti telepon rumah, handphone dan sebagainya. Dalam kesempatan ini kita mencoba menggali bagaimana adab seorang muslim dalam pemanfaatan media ini.
Ceklah dengan baik nomor telepon yang akan anda hubungi sebelum anda menelpon agar anda tidak mengganggu orang yang sedang tidur atau mengganggu orang yang sedang sakit atau merisaukan orang lain. Pilihlah waktu yang tepat untuk berhubungan via telepon, karena manusia mempunyai kesibukan dan keperluan, dan mereka juga mempunyai waktu tidur dan istirahat, waktu makan dan bekerja.
Jangan memperpanjang pembicaraan tanpa alasan, karena khawatir orang yang sedang dihubungi itu sedang mempunyai pekerjaan penting atau mempunyai janji dengan orang lain.
hendaknya wanita tidak memperindah suara di saat ber-bicara (via telpon) dan tidak berbicara melantur dengan laki-laki. Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman, yang artinya: “Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik”. (QS: Al-Ahzab: 32).
Maka hendaknya wanita berhati-hati, jangan berbicara diluar kebiasaan dan tidak melantur berbicara dengan lawan jenisnya via telepon, apa lagi memperpanjang pembicaraan, memperindah suara, memperlembut dan lain sebagainya.
Hendaknya penelpon memulai pembicaraannya dengan ucapan Assalamu`alaikum, karena dia adalah orang yang datang, maka dari itu ia harus memulai pembicaraannya dengan salam dan juga menutupnya dengan salam.
Tidak memakai telpon orang lain kecuali seizin pemilik-nya, dan itupun bila terpaksa.
Tidak merekam pembicaraan lawan bicara kecuali seizin darinya, apapun bentuk pembicaraannya. Karena hal tersebut merupakan tindakan pengkhianatan dan mengungkap rahasia orang lain, dan inilah tipu muslihat. Dan apabila rekaman itu kamu sebarluaskan maka itu berarti lebih fatal lagi dan merupakan penodaan terhadap amanah. Dan termasuk di dalam hal ini juga adalah merekam pembicaraan orang lain dan apa yang terjadi di antara mereka. Maka, ini haram hukumnya, tidak boleh dikerjakan!
Tidak menggunakan telepon untuk keperluan yang negatif, karena telepon pada hakikatnya adalah nikmat dari Alloh ‘Azza wa Jalla yang Dia berikan kepada kita untuk kita gunakan demi memenuhi keperluan kita. Maka tidak selayaknya jika kita menjadikannya sebagai bencana, menggunakannya untuk mencari-cari kejelekan dan kesalahan orang lain dan mencemari kehormatan mereka, dan menyeret kaum wanita ke jurang kenistaan. Ini haram hukumnya, dan pelakunya layak dihukum.
Sumber: www.mediamuslim.info
Pernahkah Terpikirkan Atau Lupa ?
Pernahkah antum berpikir bahwa antum diciptakan oleh Sesuatu Yang Maha Hebat? Pernahkah antum berpikir kita diciptakan dari tanah? Pernahkah antum berpikir bahwa kita adalah mahkluk yang lemah? Pernahkan antum berpikir kita hidup dan punya roh? Pernahkah antum berpikir kita pasti akan mati? Lupakah kita bahwa kita diciptakan untuk menjadi penghuni bumi? Lupakah kita bahwa di banyak orang di sekeliling kita? Lupakah kita perbuatan kita nanti bakal dipertanggungjawabkan? Lupakah kita kalau kita punya Tuhan?
Pernahkah kita bersyukur atas Sesuatu Yang Maha Hebat tersebut? Pernahkan kita merasa kita diciptakan dari tanah (sesuatu yang rendah & diinjak-injak)? Pernahkah kita merasa kita adalah sesuatu yang lemah dibanding ciptaan-ciptaan Sang Pencipta yang lain, seperti : Gunung, Laut, dll? (Apakah kita mampu mengatasi ketika gunung sedang meletus atau Gelombang Laut yang marah atau tsunami)? Pernahkan kita merasa sebenarnya kita hidup karena ada yang menghidupkan dan ada roh yang sewaktu-waktu hilang dari raga kita? Pernahkah anda merasa jasad kita akan mati, tidak berguna, dan ditanam dalam tanah?
Lupakah kita memang ditakdirkan untuk hidup di dunia yang fana’ (rusak) yang penuh dengan dosa? Lupakah bahwa akan seumur hidup berada di lingkungan manusia yang saling membutuhkan? Lupakah kita segala perbuatan yang baik atau buruk yang pernah kita lakukan pada akhirnya ada pertanggung jawabannya? Lupakah kita bahwa kita memang punya Dzat segala-segalanya yaitu Alloh ‘Azza wa Jalla, yang setiap saat harus kita ingat?
Pengirim: Ibnu Muhammad
Sumber: www.mediamuslim.info
Agama Ibrahim Musuh Agama Liberal
Dasar agama ibrahim yaitu islam, yaitu menyerahkan diri, patuh dan tunduk kepada Alloh ‘Azza wa Jalla dengan cara mentauhidkan-Nya, mentaati dan membebaskan diri dari kesyirikan dan ahli syirik. Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar berlepas diri dari ajaran thagut yang disembah oleh orang-orang yang menyembahnya selain Alloh ‘Azza wa Jalla. Alloh ‘Azza wa Jalla memberi sifat kepada Ibrahim dengan sifat-sifat yang merupakan sifat tertinggi dalam tauhid. Dia adalah imam, yaitu menjadi suri teladan, pemimpin dan pendidik kebaikan. beliau senantiasa patuh kepada Alloh ‘Azza wa Jalla. Beliau adalah orang yang ikhlas dan jujur dan jauh dari syirik. Agama Ibrohim Adalah Agama Tauhid.
Salah satu dalil yang menunjukkan bahwa tentang sifat dan perjuangan Tauhid Nabi Ibrahim adalah firman Alloh ‘Azza wa Jalla, yang artinya: “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang menjadi teladan, senantiasa patuh kepada Alloh dan hanif, dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang berbuat syirik (kepada Alloh).” (QS: An-Nahl: 120).
Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman, yang artinya: “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia, ketika mereka berkata pada kaumnya, ’Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Alloh, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kami permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Alloh saja’.” (QS: Al Mumtahanah: 4)
Orang yang mengikuti ajaran Ibrohim itulah orang yang mentauhidkan Alloh ‘Azza wa Jalla dan menjauhi diri kesyirikan, dan mentaati syariat yang telah ditetapkan oleh Alloh ‘Azza wa Jalla. Adapun orang menyelisihi ajaran Ibrohim itulah dia orang yang mempersekutukan Alloh ‘Azza wa Jalla dan terjerumus kepada perbuatan syirik, tidak mentaati apa yang telah ditetapkan oleh Alloh, bahkan menghalalkan yang diharamkan dan mengharamkan yang dihalalkan, sehingga mereka melanggar dan terjerumus dari perkara-perkara yang keluar dari tujuan hidupnya yaitu beribadah kepada Alloh ‘Azza wa Jalla semata.
Mereka Yang Menyimpang dari Agama Ibrohim
Betapapun keterangan yang jelas dan gamblang telah ada, namun banyak orang sesat dan berusaha menyesatkan manusia dari millah Ibrohim yang lurus. Mereka lebih memilih prinsip liberalisme dalam beragama ketimbang jalan Ibrohim.
Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman, yang artinya: “Tidaklah kamu memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturnkan sebelummu? Mereka hendak berhakim kepada thagut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thagut itu. Dan syetan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka, ’Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Alloh telah turunkan dan kepada hukum rasul’, niscaya kamu lihat orang-orang munafiq itu menghalangi (manusia) dari (mendekati) kamu dengan sekuat-kuatnya.” (QS: An-Nisa’: 60-62).
Ibnu Katsir mengatakan bahwa di dalam ayat ini terdapat celaaan terhadap orang yang berpaling dari Al-Quran dan As-Sunnah. Dan berhukum kepada selain Al Quran dan As Sunnah adalah termasuk kesesatan, dan itulah yang dimaksud dengan thagut disini.
Mendahulukan Akal dan Hawa Nafsu
Itulah hakikat dari agama liberal, yang menjadikan akal-akal mereka di atas ketentuan syariat, tidak tunduk kepada hukum yang ditetapkan Alloh dan rasul-Nya. Adapun orang-orang yang menyerahkan diri kepada Alloh dan beriman kepada-Nya telah Alloh ‘Azza wa Jalla jelaskan, yang artinya: “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin bila mereka dipanggil kepada Alloh dan rasul-Nya agar rasul mengukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan: ’Kami mendengar dan kami patuh.’ Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS: An-Nuur : 51)
Itulah orang yang benar imannya, dimana ketika diperintahkan untuk menetapkan hukum sesuai dengan Al Quran dan As Sunnah maka akan mengatakan “Kami Mendengar dan kami taat” walaupun tidak sesuai dengan akal mereka. Itulah orang yang mukmin, mereka selalu beriman terhadap semua perkara yang telah ditetapkan diantara mereka, dan tidak mendahulukan akal-akal mereka diatas syari’at Alloh ‘Azza wa Jalla.
Kejahatan Menolak Hadits-Hadits Shahih
Orang-orang sesat berpendapat bahwa hadits-hadits yang ada meskipun shahih masih perlu dikoreksi dan dikritisi. Sungguh aneh, dimanakah letak konsekuensi syahadat mereka. Di satu sisi mengaku bahwa Muhammad adalah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, namun di lain sisi berkata demikian. Setiap muslim yang baik pasti segera yakin bahwa hal tersebut perintah Nabi yang bersumber dari wahyu Alloh. Bukankah Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman, yang artinya “Dan tiadalah yang diucapkannya (muhammad) itu menurut kemauan hawa nafsunya. Tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS: An-Najm: 3-4)
Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman, yang artinya: “Barangsiapa yang mentaati rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Alloh.” (QS: An-Nisaa’: 80).
Siapa saja yang mentaati Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam setiap perkara yang diperintahkan maupun yang dilarang, maka sungguh dia telah taat kepada Alloh ‘Azza wa Jalla. Karena tidaklah beliau memerintah dan melarang kecuali diperintahkan oleh Alloh. Itulah syari’at Alloh ‘Azza wa Jalla, wahyu-Nya, dan ketetapan-Nya. Sungguh, jika Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam tidak maksum dari setiap wahyu yang disampaikannya dari Alloh ‘Azza wa Jalla, maka Alloh tidak akan memerintahkan manusia untuk mentaatinya.
Kejahatan Mengolok-olok Alloh dan Rasul-Nya
Di antara hal yang sangat berbahaya dalam prinsip liberal dalam beragama adalah suka mengolok-olok Alloh ‘Azza wa Jalla dan Rosul-Nya, baik penghinaan secara langsung ataukah pelecehan terhadap hukum-hukum syariat. Padahal yang demikian itu adalah sifat orang-orang munafik. Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman, yang artinya: “Dan jika kamu tanyakan kepada orang-orang munafiq (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, ’Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.’ Katakanlah, ’Apakah dengan Alloh, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu sudah kafir sesudah beriman…” (QS: At-Taubah: 65-66)
Diriwayatkan bahwasannya ketika perang Tabuk ada seseorang yang berkata, “Belum pernah kami melihat seperti para ahli baca Al-Quran ini, orang yang lebih buncit perutnya, lebih dusta lisannya dan lebih pengecut dalam peperangan.” Yang ia maksud yaitu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat yang ahli baca Al-Qur’an. Maka berkatalah Auf bin Malik kepadanya, “Dusta kau, bahkan kamu adalah seorang munafiq, akan kuberitahukan kepada Rosululloh.” Lalu pergilah Auf kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam untuk memberitahukan hal tersebut kepada beliau. Tetapi sebelum ia sampai, telah turun wahyu Alloh kepada Rosululloh. Ketika orang yagn mengolok-olok tadi datang kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dan beliau telah beranjak dari tempatnya dan menaiki ontanya. Maka berkatalah dia kepada Rosululloh, “Ya Rosululloh! Sebenarnya kami hanya bersenda gurau dan mengobrol sebagaimana obrolan orang-orang yang bepergian jauh untuk pengisi waktu saja dalam perjalanan kami.” Ibnu Umar berkata, “Aku melihat dia berpegangan pada sabuk pelana unta Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, sedang kedua kakinya tersandung-sandung batu sambil berkata, ’Sebenarnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.’ Lalu Rosululloh berkata kepadanya, ‘Apakah dengan Alloh, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’”
Segenap pengunjung dan redaksi yang semoga dirohmati Alloh ‘Azza wa Jalla, seorang yang masih lurus fitrohnya pasti akan segera tahu bahwa prinsip-prinsip liberalisme dalam beragama di atas jelas sekali kesesatannya. Tidak ada pilihan lagi bagi kita kecuali untuk meniti millah Nabi Ibrohim ‘alaihis salam dan meninggalkan jalan-jalan kesesatan yang menyimpang dari agama beliau. Hal ini karena jalan Ibrohim adalah jalan tauhid dan keselamatan, dan itulah jalannya Nabi kita Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam.
Sumber: www.mediamuslim.info
Keutamaan Menjenguk Orang Sakit
Mengunjungi dan membesuk orang sakit merupakan kewajiban setiap muslim, utamanya orang yang sangat jelas hubungannya dengan dirinya, seperti kerabat dekat, tetangga, saudara senasab, sahabat dan yang semisalnya. Menjenguk orang sakit adalah di antara amal shalih yang paling utama yang dapat mendekatkan kita kepada Alloh Subhannahu wa Ta’ala, kepada ampunan, rahmat dan SorgaNya.
Mengunjungi orang sakit merupakan perbuatan mulia, di dalamnya terdapat keutamaan yang sangat agung, pahala yang sangat besar dan ia adalah salah satu hak setiap muslim terhadap muslim lainnya. (HR: Muslim).
Rasululloh shallAllohu ‘alaihi wasallam bersabda, yang artinya: “Apabila seorang laki-laki menjenguk saudara muslimnya (yang sedang sakit), maka (seakan-akan) dia berjalan sambil memetik buah-buahan Sorga sehingga dia duduk, apabila sudah duduk maka diturunkan kepadanya rahmat dengan deras. Apabila menjenguknya di pagi hari maka tujuh puluh ribu malaikat mendo’akannya agar mendapat rahmat hingga waktu sore tiba. Apabila menjenguknya di sore hari, maka tujuh puluh ribu malaikat mendo’akannya agar diberi rahmat hingga waktu pagi tiba.” (HR: At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Imam Ahmad dengan sanad shahih).
Terakhir, hendaknya yang membesuk mendo’akan si sakit: “Tidak mengapa, semoga sakitmu ini membersihkanmu dari dosa-dosa, Insya Alloh.” (HR: Al-Bukhari).
(sumber Rujukan: Al-Hadiqatul Yani’ah minal ‘Ulumin Nafi’ah, Syaikh Ibrahim bin Jarullah Al-Jarullah) Sumber: www.mediamuslim.info
Pengunjung Terakhir Akan Datang
Sungguh! Ia tak datang karena haus akan hartamu, karena ingin ikut nimbrung makan, minum bersamamu, meminta bantuanmu untuk membayar hutangnya, memintamu memberikan rekomendasi kepada seseorang atau untuk memuluskan upaya yang tidak mampu ia lakukan sendiri.!! Pengunjung ini datang untuk misi penting dan terbatas serta dalam masalah terbatas. Kamu dan keluargamu bahkan seluruh penduduk bumi ini tidak akan mampu menolaknya dalam merealisasikan misinya tersebut!
Kalau pun kamu tinggal di istana-istana yang menjulang, berlindung di benteng-benteng yang kokoh dan di menara-menara yang kuat, mendapatkan penjagaan dan pengamanan yang super ketat, kamu tidak dapat mencegahnya masuk untuk menemuimu dan menuntaskan urusannya denganmu!!
Untuk menemuimu, ia tidak butuh pintu masuk, izin, dan membuat perjanjian terlebih dahulu sebelum datang. Ia datang kapan saja waktunya dan dalam kondisi bagaimanapun; dalam kondisimu sedang sibuk ataupun sedang luang, sedang sehat ataupun sedang sakit, semasa kamu masih kaya ataupun sedang dalam kondisi melarat, ketika kamu sedang bepergian atau pun tinggal di tempatmu.!!
Saudaraku! Pengunjungmu ini tidak memiliki hati yang gampang luluh. Ia tidak bisa terpengaruh oleh ucapan-ucapan dan tangismu bahkan oleh jeritanmu dan perantara yang menolongmu. Ia tidak akan memberimu kesempatan untuk mengevaluasi perhitungan-perhitunganmu dan meninjau kembali perkaramu! Kalau pun kamu berusaha memberinya hadiah atau menyogoknya, ia tidak akan menerimanya sebab seluruh hartamu itu tidak berarti apa-apa baginya dan tidak membuatnya mundur dari tujuannya!
ungguh! Ia hanya menginginkan dirimu saja, bukan orang lain! Ia menginginkanmu seutuhnya bukan separoh badanmu! Ia ingin membinasakanmu! Ia ingin kematian dan mencabut nyawamu! Menghancurkan raga dan mematikan tubuhmu! Dia lah malaikat maut!!! Alloh subhanahu wata’ala berfirman, yang artinya: “Katakanlah, ‘Malaikat Maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.” (QS: As-Sajadah: 11)
Dan firman-Nya, yang artinya: “Sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.” (QS: Al-An’am: 61)
Kereta Usia
Tahukah kamu bahwa kunjungan Malaikat Maut merupakan sesuatu yang pasti? Tahukah kamu bahwa kita semua akan menjadi musafir ke tempat ini? Sang musafir hampir mencapai tujuannya dan mengekang kendaraannya untuk berhenti? Tahukah kamu bahwa perputaran kehidupan hampir akan terhenti dan ‘kereta usia’ sudah mendekati rute terakhirnya? Sebagian orang shalih mendengar tangisan seseorang atas kematian temannya, lalu ia berkata dalam hatinya, “Aneh, kenapa ada kaum yang akan menjadi musafir menangisi musafir lain yang sudah sampai ke tempat tinggalnya?”
Berhati-hatilah!
Semoga anda tidak termasuk orang yang Alloh subhanahu wata’ala sebutkan, artinya: “Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila Malaikat (Maut) mencabut nyawa mereka seraya memukul muka mereka dan punggung mereka?” (QS: Muhammad: 27) Atau firman-Nya, yang artinya: “(Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zhalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata), ‘Kami sekali-kali tidak ada mengerjakan sesuatu kejahatan pun.” (Malaikat menjawab), “Ada, sesungguh-nya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan. “Maka masuklah ke pintu-pintu neraka Jahannam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombong-kan diri itu.” (QS: An-Nahl: 28-29)
ahukah kamu bahwa kunjungan Malaikat Maut kepadamu akan mengakhiri hidupmu? Menyudahi aktivitasmu? Dan menutup lembaran-lembaran amalmu?
Tahukah kamu, setelah kunjungan-nya itu kamu tidak akan dapat lagi melakukan satu kebaikan pun? Tidak dapat melakukan shalat dua raka’at? Tidak dapat membaca satu ayat pun dari kitab-Nya? Tidak dapat bertasbih, bertahmid, bertahlil, bertakbir, beristighfar walau pun sekali? Tidak dapat berpuasa sehari? Bersedekah dengan sesuatu meskipun sedikit? Tidak dapat melakukan haji dan umrah? Tidak dapat berbuat baik kepada kerabat atau pun tetangga?
‘Kontrak’ amalmu sudah berakhir dan engkau hanya menunggu perhitungan dan pembalasan atas kebaikan atau keburukanmu!!
Alloh subhanahu wata’ala berfirman, yang artinya: “(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikan lah aku (ke dunia).” Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak. Sesungguh-nya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS: Al-Mu’minun: 99-100)
Persiapkan Dirimu!
Mana persiapanmu untuk menemui Malaikat Maut? Mana persiapanmu menyongsong huru-hara setelahnya; di alam kubur ketika menghadapi pertanyaan, ketika di Padang Mahsyar, ketika hari Hisab, ketika ditimbang, ketika diperlihatkan lembaran amal kebaikan, ketika melintasi Shirath dan berdiri di hadapan Alloh Al-Jabbar? Dari ‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasululloh shallallahu ‘alihi wasallam bersabda, yang artinya: “Tidak seorang pun dari kamu melainkan akan diajak bicara oleh Allah pada hari Kiamat, tidak ada penerjemah antara dirinya dan Dia, lalu ia memandang yang lebih beruntung darinya, maka ia tidak melihat kecuali apa yang telah diberikannya dan memandang yang lebih sial darinya, maka ia tidak melihat selain apa yang telah diberikannya. Lalu memandang di hadapannya, maka ia tidak melihat selain neraka yang berada di hadapan mukanya. Karena itu, takutlah api neraka walau pun dengan sebelah biji kurma dan walau pun dengan ucapan yang baik.” (Muttafaqun ‘alaih)
Berhitunglah Atas Dirimu!
Saudaraku, berhitunglah atas dirimu di saat senggangmu, berpikirlah betapa cepat akan berakhirnya masa hidupmu, bekerjalah dengan sungguh-sungguh di masa luangmu untuk masa sulit dan kebutuhanmu, renungkanlah sebelum melakukan suatu pekerjaan yang kelak akan didiktekan di lembaran amalmu.
Di mana harta benda yang telah kau kumpulkan? Apakah ia dapat menyelamatkanmu dari cobaan dan huru-hara itu? Sungguh, tidak! Kamu akan meninggalkannya untuk orang yang tidak pernah menyanjungmu dan maju dengan membawa dosa kepada Yang tidak akan memberikan toleransi padamu!
(Sumber Rujukan: Az-Zâ’ir Al-Akhîr karya Khalid bin Abu Shalih)
Pengirim: Abu Zakaria
Sumber: www.mediamuslim.info
Tinggalkan Komen
Tinggalkan Komen
Tinggalkan Komen