Arkib bagi Hari 5 Mac 2007

Berhati-hatilah…. Sanjungan Siap Menghanyutkan Hati Antum

Membebaskan diri dari segala cela dan menghindar dari tipu daya setan adalah fase yang sangat menentukan dalam membentuk pribadi yang luhur dan terbina. Terutama bagi yang mencanangkan dirinya berada di jalur dakwah menuju Dienullah. Fase tersebut ibarat gerbang yang harus dilewati menuju pembentukan diri. Yakni membebaskan diri dari segala cela yang merupakan gerbang menuju pribadi mulia, yang akan membentuk akhlak dan tutur kata yang luhur.

Sudah kita maklumi bersama bahwa banyak sekali tipu daya setan untuk menyesatkan bani Adam. Salah satu bentuk tipu daya setan yang cukup tangguh dan sering mengelabui kalangan umat Islam  adalah sanjungan-sanjungan yang menghanyutkan. Imam Ats-Tsauri menuturkan: “Apabila engkau bukan termasuk orang yang takjub terhadap diri sendiri, hal lain yang perlu diingat ialah; hindarilah sifat senang disanjung orang.” Maksudnya bukan orang lain tidak boleh memuji perbuatanmu itu, tetapi janganlah kamu meminta pujian dari orang lain. Hendaknya engkau selalu berhubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala (dengan selalu mengingatnya-pent).

Dalam sebuah hadits disebutkan:  “Barangsiapa yang mencari ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala, meskipun menimbulkan kemarahan manusia, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan meridhainya dan akan membuat manusia ridha terhadapnya. Dan barangsiapa yang mencari kesenangan manusia, hingga membuat Allah murka maka Allah murka kepadanya dan membuat manusia murka terhadapnya.” (HR. At-Tirmidzi).

Dan dalam suatu riwayat: Dua orang yang memu-jinya akan balik mencelanya.

Ats-Tsauri berkata: Dalam kategori ini: Engkau menginginkan mereka memuliakanmu dan senang jika engkau mendapat kehormatan dan kedudukan di hati mereka. Menurut hemat saya korban panah macam ini banyak sekali tapi mereka bermacam-macam bentuknya, yang sebagian tidak begitu tampak karena sebagian orang memahami pujian hanya dari satu sisi saja dan melupakan sisi yang lain, di antaranya juga ada yang datang dari sisi senang dipuji oleh orang lain lewat perkataan. Dan banyak orang ingin membaca kehebatan bola ghoh orang yang memujinya samapi-sampai ada yang menunjukkan bahwa pujian-pujian itu adalah memang bukti nyata keadaan orang yang dipujinya seolah-olah dia mengatakan seperti apa yang dikatakan seorang laki-laki yang berdiri di depan Musailamah Alkadzab yang mengaku-aku sebagai nabi, Musailamah berkata kepadanya: “Aku lebih tahu apa yang ada dalam hatimu!” Orang itu berkata kepadanya: “Aku juga tahu apa yang ada di dalam hatimu!” “Apa itu!” sergah Musailamah. Orang itu menjawab: “Demi Allah, aku tahu sebenarnya engkau menyadari bahwa sesungguh-nya aku mengetahui engkau adalah seorang pendusta!”

Oleh sebab itu, hendaknya seseorang menyederhanakan bahasa dan tutur katanya. Jangan sampai lisannya menjadi batu sandungan bagi dirinya, sebab dosa yang dituai lisan pada umumnya dari hal semacam ini. Seandainya orang yang senang dipuji selalu ingat (bahaya yang timbul dibalik pujian), niscaya ia menyadari bahwa dialah yang paling mengetahui akan kelemahan dirinya sendirinya. Namun manusia itu selalu lupa, mudah terpedaya dan suka berpaling dari nasihat orang lain yang mengajarkan kepadanya etika pergaulan dan nilai-nilai agama. Seorang ahli hikmah bertutur dalam syairnya:

Hai orang jahil yang terbuai dengan sanjungan meng-hanyutkan
Kejahilan orang yang menyanjungmu jangan sampai menguasai kesadaranmu akan kadar dirimu
Pujian dan sanjungan itu ia ucapkan tanpa sepe-ngetahuannya tentang hakikat dirimu
Dirimulah yang lebih mengetahui tentang baik buruknya dirimu

Sekiranya kesadaran itu belum juga tumbuh, maka simaklah penuturan Al-Fudhail bin ‘Iyadh yang telah meletakkan kaidah untuk mengetahui kadar diri, beliau berkata: “Di antara tanda-tanda orang munafik adalah senang dipuji atas sesuatu yang tidak ada pada dirinya, benci celaan atas kejelekan yang ada pada dirinya, dan marah terhadap orang yang mengoreksi kekurangan-nya.”

Segeralah introspeksi dirimu wahai saudaraku! Sekiranya seseorang datang secara pribadi berkata: “Saya melihat kekuranganmu ini dan ini”, apakah wajah-mu lantas memerah lalu engkau memakinya, engkau tetap tidak bergeming dari kekurangan itu! Bahkan mengomel sambil berkomat-kamit mengucapkan laa haula wala quwwata illa billah!

Ataukah engkau berkata: “Semoga Allah merahmati orang yang menunjukkan kekuranganku”

Kita akan dapati orang tersebut menjadi korban sanjungan menghanyutkan itu. Seandainya seseorang menyanjungnya, hatinya langsung berbunga-bunga, girang-gembira dan tenggelam dalam khayalan-khayalan indah. Mengapa? Sebab dirinya akan terbuai dengan sanjungan itu. Namun jika datang orang lain yang mena-sihatinya, sikapnya langsung berubah aneh, dadanya menjadi sempit, langsung ditimpalinya dengan omelan panjang, dan keluar kata-kata keji lagi kasar dari lisan-nya.

Wahai saudaraku, ketahuilah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala banyak menutupi kesalahan-kesalahan kita, dan itu merupakan nikmat yang sangat besar. Setiap orang tentu lebih tahu tentang rahasia dirinya sendiri daripada orang lain. Pujian orang lain kepada kita hanyalah jaring-jaring godaan yang dilemparkan setan untuk menjerat diri kita. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melindungi kita dari godaan setan dan perangkapnya.

Seorang ulama salaf bernama Khalid bin Shafwan rahimahullah banyak menyelidiki psikologis bani Adam, ia berkata: “Berapa banyak orang yang terpedaya dengan sitrullah (tirai Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menutupi kesalahan manu-sia) dan tergoda dengan sanjungan orang. Maka jangan sampai kejahilan orang yang menyanjungmu menguasai kesadaranmu akan kadar dirimu. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menjadikan kita termasuk golongan mereka.

Jenis pujian lainnya adalah memuji diri sendiri atas kekurangan yang ada padanya. Ini termasuk rekomen-dasi terhadap diri sendiri. Sebagian orang sengaja memuji diri sendiri di hadapan orang banyak. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:  “Janganlah kamu menganggap diri kamu suci” (An-Najm: 32)

Dan perbuatan tadi termasuk menganggap suci diri sendiri. Rabbah Al-Qaisi pernah ditanya: “Apakah yang dapat merusak amalan seseorang?” Beliau menja-wab: “Sanjungan orang dan lupa terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberi nikmat”

Seorang penyair berkata:

Sungguh aneh orang yang memuji dirinya sendiri
Namun tidak menyadari bahwa pujiannya itu sendiri adalah kekurangan dirinya
Seorang pemuda memuji diri atas kekurangan yang ada padanya,
menyebut-nyebut aibnya sendiri hingga diketahui kejelekannya

Hendaknya seorang muslim menjauhi perbuatan seperti ini. Ada lagi yang lebih aneh, sebagian orang yang telah dijangkiti sifat ujub membongkar rahasianya sendiri dengan mencela diri sendiri di hadapan orang lain. Mereka menyangka bahwa perbuatan seperti itu akan melahirkan anggapan baik orang lain terhadap mereka, bahwa mereka jauh dari sifat ujub dll. Sungguh mereka tidak menyadari bahwa sifat tawadhu’ merupakan karunia ilahi tidak dapat dibuat-buat seperti itu. Barangsiapa yang mencela dirinya sendiri di hadapan orang banyak, sebenarnya ia telah memuji dirinya, dan yang demikian itu termasuk tanda-tanda riya’ sebagaimana yang dituturkan Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah.

Yang tidak kalah aneh adalah sikap sebagian orang mencela kanan kiri seolah-olah bertindak sebagai wasit (penengah). Padahal sebenarnya ia tidak menengahinya. Ia tidak menasihati orang itu karena takut akan membakar kemarahannya, dan tidak pula memujinya karena khawatir akan ditentang orang banyak. Tetapi ia menyebut kekurangan orang lain. Sebenarnya perbuatan-nya itu adalah pujian atas dirinya sendiri. Dan ia pun sebenarnya tidak menyebutkan penyimpangan yang ada pada saudaranya itu, namun ia cela si Umar sebagai orang yang lugu, si Zaid sebagai pemalas dan lain sebagainya. Dengan itu jiwanya pun menjadi puas dan senang. Realita seperti ini sangat cocok dengan ucapan Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah: “Sesungguhnya di antara ciri-ciri orang munafik adalah senang jika mendengar aib saudaranya.”

Oleh sebab itu, apabila kaum salaf mendengar aib salah seorang saudaranya dibeberkan di hadapannya, ia akan marah. Ia akan lihat terlebih dahulu apakah hal itu memang benar atau tidak! Dan kadangkala mereka menegur orang yang membeberkan dan menyuruhnya untuk menyebutkan langsung hal itu kepada yang bersangkutan.

Betapa bahagia orang yang dapat menjaga diri dari panah-panah setan tersebut. Selalu mengoreksi diri dan menyadari kekurangan dirinya. Lalu menyadari bahwa seberapapun banyak amal yang dikerjakannya, tetap kecil dibandingkan dengan kewajiban bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas nikmat-nikmat yang telah tercurah kepadanya. Hendaklah selalu kita ingat salah satu dari tujuh orang yang dinaungi Allah di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya, yaitu seorang yang bersedekah dan menyembunyikan sedekahnya, sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya. Dan seperti orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala mudahkan untuk beramal shalih, yang tidak diketahui kecuali oleh segelintir orang saja. Manfaat amalnya dapat dirasakan segenap kaum muslimin, namun mereka tidak mengetahui orang yang melakukannya. Dalam hadits dikisahkan tentang seorang lelaki yang berkata: “Saya akan mengeluarkan sedekah!” Kemudian dia keluar pada malam hari dengan membawa sedekahnya itu. Ternyata sedekahnya itu jatuh ke tangan seorang yang kaya. Keesokan harinya orang-orang pada membicarakan peristiwa itu. Mereka berkata: “Seorang kaya telah diberi sedekah!” Lelaki itu hanya berdoa: “Ya Allah, segala puji bagi-Mu, sedekahku jatuh ke tangan orang kaya.” Ia berkata lagi: “Saya akan mengeluarkan sedekah!” Kemudian dia keluar pada malam kedua dengan membawa sedekahnya itu. Ternyata sedekahnya itu jatuh ke tangan seorang pencuri. Keesokan harinya orang-orang pada membicarakan peristiwa itu. Mereka berkata: “Seorang pencuri telah diberi sedekah!” Lelaki itu hanya berdoa: “Ya Allah, segala puji bagi-Mu, sede-kahku jatuh ke tangan orang kaya dan seorang pencuri.” Ia berkata lagi: “Saya akan mengeluarkan sedekah!” Kemudian dia keluar pada malam hari dengan membawa sedekahnya itu. Ternyata sedekahnya itu jatuh ke tangan seorang pelacur. Keesokan harinya orang-orang pada membicarakan peristiwa itu. Mereka berkata: “Seorang pelacur telah diberi sedekah!” Lelaki itu hanya berdoa: “Ya Allah, segala puji bagi-Mu, sedekahku jatuh ke tangan orang kaya, seorang pencuri dan pelacur.” Kemudian ditanyakan kepadanya perihal tersebut, ia pun berkata: “Semoga orang kaya itu dapat memetik pelajaran hingga bersedia mengeluarkan kewajiban zakatnya, semoga si pencuri itu dapat menjaga kehormatan dirinya dengan harta itu, dan semoga si pelacur dapat menjaga kehor-matan dirinya dengan harta itu hingga dapat meninggal-kan perbuatan zina.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Dari hadits itu dapat kita ketahui bahwa para sahabat  lebih suka bila hubungan antara mereka dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak diketahui orang banyak. Mereka tidak suka orang lain mengetahui apa yang mereka amalkan. Mudrik bin ‘Aun Al-Ahmas berkata: “Ketika aku berada di sisi Umar radhiyallahu ‘anhu, datanglah utusan An-Nu’man. Umar radhiyallahu ‘anhu pun menanyakannya tentang keadaan pasukan. Utusan itu menyebutkan orang-orang yang terluka dan terbunuh di Nahawand, ia berkata: “Si Fulan bin Fulan, Fulan bin Fulan dan lain-lain yang tidak engkau kenal. Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: “Akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui mereka.” Dalam riwayat lain disebutkan: “Akan tetapi Dzat Yang telah mengkaruniakan mereka syahadah (mati syahid) mengetahui wajah dan nasab mereka.”

Dalam kisah yang lain disebutkan ketika Masla-mah bin Abdulmalik kesulitan merebut sebuah benteng yang tengah dikepungnya. Benteng itu sangat kokoh sehingga sulit ditaklukkan. Maslamah berkata kepada pasukannya: “Siapakah yang berani masuk menerobos lewat jendela itu (ternyata pada benteng itu ada sebuah jendela), untuk membuka pintu benteng dari dalam?” Maka majulah seorang yang bertutup muka, ia segera menerobos jendela itu dan membuka pintu benteng dari dalam. Begitu pintu terbuka pasukan kaum muslimin segera menyerbu masuk ke dalam benteng, dan terja-dilah pertempuran yang sengit. Akhirnya pasukan kaum muslimin dapat menaklukkan musuh. Selesai peperangan, Maslamah duduk-duduk bersama segenap pasukannya. Ia berkata: “Siapakah engkau wahai orang yang bertutup muka?” Namun segenap pasukan diam membisu! Masla-mah berseru sekali lagi: “Siapakah engkau wahai orang yang bertutup muka?” Namun mereka masih saja diam. Akhirnya Maslamah berkata: “Demi Allah, wahai orang yang bertutup muka, silakan datang menemuiku siang atau malam hari!” Pada malam harinya tiba-tiba ada orang yang menggerak-gerakkan tenda Maslamah, Maslamah bertanya: “Apakah engkau orang yang bertutup muka itu?” Orang itu menjawab: “Orang yang bertutup muka itu membuat beberapa persyaratan kepada kalian.” “Apa itu?” tanya Maslamah. “Ia mensyaratkan agar kalian tidak bertanya tentang namanya dan nama ayahnya, dan kalian jangan memberinya hadiah serta jangan laporkan namanya kepada khalifah” jawab orang itu. “Kami penuhi syarat-syaratnya!” balas Maslamah. Orang itu berkata: “Akulah orang yang bertutup muka itu!”

Tidakkah Kita lihat wahai saudaraku, keikhlasan telah meluruskan amalnya. Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar kita dijauhkan dari setan dan dihindarkan dari panah-panahnya. Dan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mencurahkan keikhlasan kepada kita dalam berucap dan beramal. Dan kita tutup permohonan ini dengan mengucapkan Alhamdu-lillahi Rabbil ‘Alamin.

Sumber: www.mediamuslim.info

Waspadalah terhadap Penyakit Futur

Futur adalah penyakit yang bisa menyerang siapa saja. Hakikat futur adalah dehidrasi iman dan amal, yaitu virus yang menyerang motivasi seseorang sehingga menyebabkan turunnya kualitas atau melemahnya frekuensi iman dan amal. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah mengisyaratkan bahwa setiap amalan sangat rentan terserang penyakit futur, diantara adalah sabda beliau:

إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةً وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةٌ فَمَنْ كَانَتْ شِرَّتُهُ إِلَى سُنَّتِي فَقَدْ أَفْلَحَ وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ

“Setiap amalan pasti ada gairahnya dan setiap gairah pasti mengalami penurunan (futur), barangsiapa penuruannya kepada sunnah maka ia telah beruntung dan barangsiapa penurunannya kepada bid’ah maka ia telah binasa.” (Hadits riwayat Ahmad dan dishahihkan oleh Syaikh Ali Hasan dalam kitab Arba’uuna Hadiitsan fi Syakhsiyah Islamiyyah)

Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ إِلاَّ غَلَبَهُ

“Sesungguhnya agama ini sangat mudah. Dan tiada seseorang yang mencoba mempersulit diri dalam agama ini melainkan ia pasti kalah.” (Hadits riwayat Al-Bukhaari)

dan dalam hadits lainnya beliau mengatakan:

سَدِّدُوْا، وَقَارِبُوْا، وَاغْدُوْا وَرُوْحُوْا، وَشَيءٌ مِنَ الدُّلْجَةِ؛ القَصْدَ القَصْدَ تَبْلُغُوْا

“Sederhanalah dalam beramal, mendekatlah pada kesempurnaan, pergunakanlah waktu pagi dan sore serta sedikit dari waktu malam. Bersahajalah, niscaya kalian akan sampai tujuan.” (Hadits riwayat Al-Bukhaari)

Ibnu Hajar menukil perkataan Ibnul Munayyir dalam Fathul Baari sebagai berikut; Ibnul Munayyir berkata: Hadits ini termasuk salah satu mukjizat nabi. Kita semua sama-sama menyaksikan bahwa setiap orang yang kelewat batas dalam agama pasti akan terputus. Maksudnya bukan tidak boleh mengejar ibadah yang lebih sempurna, sebab hal itu termasuk perkara yang terpuji. Perkara yang dilarang di sini adalah berlebih-lebihan yang membuat jemu atau kelewat batas dalam mengerjakan amalan sunnat hingga berakibat terbengkalainya perkara yang lebih afdhal. Atau mengulur kewajiban hingga keluar waktu. Misalnya orang yang shalat tahajjud semalam suntuk lalu tertidur sampai akhir malam sehingga terluput shalat Subuh berjama’ah, atau sampai keluar dari waktu yang afdhal atau sampai terbit matahari sehingga keluar dari batasan waktunya. Dalam hadits Mihzan bin Al-Adra’ yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad disebutkan:

إِنَّكُمْ لَنْ تَنَالُوْا هَذَا الأَمْرَ بِالمُغَالَبَةِ، وَخَيْرَ دِيْنِكُمْ اليُسْرَةُ

“Kalian tidak akan dapat melaksanakan dien ini dengan memaksakan diri. Sebaik-baik urusan agamamu adalah yang mudah.”

Dari pernyataan ini dapat dipetik kaedah wajibnya mengambil rukhshah (dispensasi) syariat. Melaksanakan azimah (ketentuan asal) pada saat diberikannya dispensasi merupakan bentuk memaksakan diri. Misalnya orang yang tidak bertayammum tatkala ia tidak mampu menggunakan air, sehingga karena memaksakan diri menggunakan air ia mendapat mudharat.”

Dalam hadits lain dari Abdullah bin Mas’ud Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

هَلَكَ المُتَنَطِّعُوْنَ

“Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Hadits riwayat Muslim)

Melalui hadits di atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kepada umat manusia bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan kesederhanaan dan keseimbangan dalam ucapan dan perbuatan. Sikap yang keluar dari batas-batas keseimbangan dan berlebih-lebihan akan memudharatkan pelakunya. Ia akan terhenti di tengah jalan. Sebab, sikap tersebut akan membuatnya jenuh dan bosan. Dan dapat menyebabkan ia mengabaikan kewajiban yang lebih utama atau tertunda melaksanakannya. Misalnya, seorang yang shalat tahajjud sepanjang malam, lalu tertidur pada akhir malam sehingga melewati waktu Subuh atau minimal ia terluput mengerjakan shalat Subuh berjamaa’ah di masjid.

Sebagai contoh makruh hukumnya meninggalkan shalat malam bagi yang sudah biasa mengerjakannya. Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash Radhiyallahu anhuma ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku:

يَا عَبْدَاللَّهِ لَا تَكُنْ مِثْلَ فُلَانٍ كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ

“Hai Abdullah, janganlah seperti si Fulan, dahulu ia rajin mengerjakan shalat malam kemudian ia meninggalkannya.” (Hadits riwayat Al-Bukhaari (1152) dan Muslim (1159).)

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Baari (III/38): “Dapat diambil istimbath hukum dari hadits ini makruhnya memutus ibadah yang rutin dikerjakan meskipun ibadah itu tidak wajib.”

Banyak sekali ditemukan kasus-kasus futur di tengah kaum muslimin namun sangat sedikit diantara mereka yang menyadarinya. Pasalnya, masalah ini memang jarang dibicarakan. Maka dari itu dalam kesempatan singkat ini kita mencoba membahas tentang penyakit futur dan sebab-sebabnya serta cara-cara mengatasinya:

Bagaimanakah penyakit futur bisa menulari kita?

Ghurur dan gila popularitas atau kebalikannya

Ghurur adalah takjub dengan kehebatan diri sendiri, merasa paling hebat dan paling tinggi dari orang lain. Ini adalah penyakit, disamping itu merupakan jalan masuk bagi sifat sombong. Hakikat sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.

Sebab ghurur:

  1. Pujian dan sanjungan.

  2. Suka melihat dan mendengar kesalahan orang lain.

Pengobatan penyakit ghurur:

  1. Meminta bimbingan ulama dan orang shalih.

  2. Menerima nasihat.

  3. Senantiasa tawaadhu’ dan berbaik sangka terhadap orang lain.

  4. Menyorot diri sendiri sebelum menyorot orang lain.

  5. Memohon kepada Allah.

  6. Menyadari kelemahan dan kekurangan diri.

Dua penyakit akut:

  1. Berhujjah dengan kesalahan orang lain dan mengikuti zallah (ketergelinciran) seorang alim.

  2. Semut di seberang lautan dapat terlihat, gajah di depan mata tak kelihatan.

Melalaikan nawaafil (amalan-amalan sunnat) dan menganggap remeh perkara-perkara makruh
Pengobatannya:

  1. Awas, satu hilang dua terbilang!

  2. Menguatkan azam dan menjauhi sikap tafrith (anggap enteng)

  3. Menguatkan cinta kepada Allah dan benar-benar memohon dan meminta inayah

  4. kepada-Nya.

  5. Mujahadah dan mushaabarah.

Banyak bergaul dan berkumpul dengan pelaku maksiat dan mendekati atau mendatangi tempat-tempat fitnah

  1. Pengaruh lingkungan, alam ghaib dan alam nyata.

  2. Pengaruh teman dan pergaulan.

  3. Bithaanah khair dan bithaanah suu’. Bithaanah artinya adalah teman kepercayaan dan tempat bertukar pikiran.

Bagaimana mengatasinya?

  1. Sediakanlah waktu untuk muhasabah dan menyendiri (uzlah)

  2. Tidak membuka front dan kontroversi serta menjauhi majelis jidal (debat kusir)

  3. Kemandirian

Antara Ishraar dan Tark

Ishraar adalah mempertahankan perbuatan dosa dan kesalahan, dan tark adalah melalaikan kewajiban dan hal-hal yang dianjurkan.

  1. Meluruskan tabiat dan kebiasaan (alah bisa karena biasa)

  2. Jangan menganggap kecil dosa kecil dan jangan menganggap remeh amal kebaikan walaupun sedikit

  3. Membiasakan diri taubat setiap saat

Tidak punya tujuan dan arah hidup yang jelas

Solusinya:

  1. Menetapkan tujuan

  2. Tidak tergesa-gesa memetik hasil

  3. Selalu mengaitkan diri dengan akhirat

Adanya intervensi dam tekanan-tekanan pihak luar

  1. Tekanan kedua orang tua

  2. Tekanan keluarga (suami/istri dan anak-anak)

  3. Tekanan atasan

  4. Tekanan jiran tetangga

  5. Tekanan pihak penguasa

Bagaimanakah mengatasi tekanan-tekanan tersebut?

  1. Jangan taat kepada siapapun dalam perkara maksiat terhadap Allah!

  2. Sabar menghadapi gangguan berupa ejekan dan cemoohan

  3. Jangan korbankan akhirat karena menjaga kepentingan dunia

  4. Ihtisaab, pahala akhirat lebih baik dan lebih kekal

  5. Jangan buka tawar menawar dalam urusan agamamu!

  6. Jadilah contoh yang baik bagi orang lain

  7. Melepas sebagian dari hak-hak pribadimu

Menjauhi lingkungan yang penuh keimanan (majelis-majelis ilmu dan sejenisnya) dan menjauhi pergaulan dengan orang-orang shalih dalam waktu yang lama

Tenggelam dan larut dalam urusan dunia sehingga menjadi budak dunia

Terapi pengobatannya:

  1. Tidak terpesona dengan gemerlap dunia, ambil ibrah dari kisah Qarun.

  2. Ambillah bagian dari dunia sekadar untuk menutupi kebutuhanmu.

  3. Mengidam-idamkan pahala akhirat.

  4. Jadilah engkau di dunia seperti musafir kelana.

Fitnah syahwat dan fitnah wanita

Jenis-jenis syahwat yang dimaksud di sini:

  1. Menyorotkan pandangan kepada perkara-perkara yang haram dilihat.

  2. Ikhtilaat (campur baur lelaki dan perempuan).

  3. Khalwat (berdua-duan dengan wanita bukan mahram).

  4. Al-Aadah Sirriyah (onani atau masturbasi).

  5. Fitnah zina.

  6. Fitnah liwath (homoseksual).

  7. Fitnah wanita dan amraad (anak laki-laki yang belum tumbuh jenggotnya).

Sebab-sebab jatuhnya seorang insan dalam fitnah syahwat:

  1. Lalai mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

  2. Tidak ghaddhul bashar (menjaga pandangan).

  3. Lemah jiwa.

  4. Panjang angan-angan dan mengikuti keinginan-keinginan batil.

  5. Tidak menjaga lima pintu masuk setan ke dalam hati (lahzhaat, khatharat, lafzhaat, khutwaat dan sam’aat).

  6. Hati dan pikiran yang terbiasa kosong.

  7. Hanyut dalam pergaulan bebas.

  8. Mengikuti langkah-langkah setan.

Cara mengatasinya:

  1. Isti’aanah (memohon pertolongan) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

  2. Muraaqabah.

  3. Mengisi waktu dengan hal-hal yang positif dan bermanfaat.

  4. Menjauhi tempat dan sarana yang berpotensi menyeret kita ke dalam fitnah syahwat.

  5. Menangisi kesalahan dan tetap betah di rumah.

PANJANG ANGAN-ANGAN

Cara mengatasinya:

  1. Banyak mengingat kematian dan kehidupan setelah mati dengan sering-sering berziarah kubur, mengurusi jenazah, mengunjungi orang sakit atau menghadiri orang sekarat.

  2. Segera beramal dan menjauhi taswiif (menunda-nunda amal).

  3. Banyak bersyukur, dengan melihat orang-orang yang dibawah kita dan sering-sering menghitung nikmat.

(Sumber Rujukan: Shahih Muslim, Shahih Bukhari, Fathul Baari)

Sumber: www.mediamuslim.info

Pikiran Yang Melintas Di Benak (Al-Khatharat)

Dari sinilah lahirnya keinginan (untuk melakukan sesuatu) yang akhirnya berubah menjadi tekad yang bulat. Maka, barangsiapa yang mampu mengendalikan pikiran-pikiran yang melintas di benaknya, niscaya dia akan mampu mengendalikan diri dan menundukkan nafsunya. Namun, orang yang tidak bisa me-   ngendalikan pikiran-pikirannya, maka hawa nafsunyalah yang berbalik menguasainya. Dan barangsiapa yang menganggap remeh pikiran-pikiran yang melintas di benaknya, maka tanpa dia inginkan, akan terseret pada kebinasaan.

Pikiran-pikiran itu akan terus melintas di benak dan di dalam hati seseorang, sehingga akhirnya dia akan menjadi angan-angan tanpa makna (palsu).

 ”Laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitunganNya” (An-Nur: 39).

Orang yang paling jelek cita-citanya dan paling hina adalah orang yang merasa puas dengan angan-angan kosongnya. Dia pegang angan-angan itu untuk dirinya dan dia pun merasa bangga dan senang dengannya. Padahal, demi Allah, angan-angan itu adalah modal orang-orang yang pailit dan barang dagangan para pengangguran serta merupakan makanan pokok bagi jiwa yang kosong yang bisa merasa puas dengan gambaran-gambaran dalam khayalan, dan angan-angan palsu.

Angan-angan adalah sesuatu yang sangat berbahaya bagi manusia. Dia lahir dari sikap ketidakmampuan sekaligus kemalasan, dan melahirkan sikap lalai yang selanjutnya penderitaan dan penyesalan. Orang yang hanya berangan-angan -disebabkan karena dia tidak berhasil mendapatkan realita yang diinginkannya- sebagai pelampiasannya, maka dia merubah gambaran realita yang dia inginkan ke dalam hatinya; dia akan mendekap dan memeluknya erat-erat.Selanjutnya dia akan merasa puas dengan gambaran-gambaran palsu yang dikhayalkan oleh pikirannya.

Padahal, itu semua, sedikitpun tidak akan membawa manfaat. Sama seperti orang yang sedang lapar dan haus, membayangkan gambaran makanan dan minuman namun dia tidak dapat memakan dan meminumnya.

Perasaan tenang dan puas dengan kondisi semacam ini dan berusaha untuk memperolehnya, jelas menunjukkan betapa jelek dan hinanya jiwa seseorang. Sebab, kemuliaan jiwa seseorang, kebersihan, kesucian dan ketinggiannya, tidak lain adalah dengan cara membuang jauh-jauh setiap pikiran yang jauh dari realita dan dia tidak rela bila hal-hal tersebut sampai melintas di benaknya serta dia juga tidak sudi hal itu terjadi pada dirinya.

Kemudian “khatharat” atau ide, pikiran yang melintas di benak itu, mempunyai banyak macam, namun pada pokoknya ada empat:

  1. Pikiran yang orientasinya untuk mencari keuntungan-keuntungan dunia/materi.

  2. Pikiran yang orientasinya untuk mencegah kerugian dunia/materi.

  3. Pikiran yang orientasinya untuk mencari kemaslahatan akhirat.

  4. Pikiran yang orientasinya untuk mencegah kerugian akhirat.

Idealnya, seorang hamba hendaklah menjadikan pikiran-pikiran, ide-ide dan keinginannya hanya berkisar pada empat macam di atas. Bila kesemua bagian itu ada padanya, maka selagi mungkin dipadukan, hendaklah dia tidak mengabaikannya untuk yang lain. Kalau ternyata, pikiran-pikiran yang datang itu banyak dan bertumpang tindih, maka hendaklah dia mendahulukan yang lebih penting, yang dikhawatirkan akan kehilangan kesempatan untuk itu, kemudian mengakhirkan yang tidak terlalu penting dan tidak dikhawatirkan kehilangan kesempatan untuk itu.

Yang tersisa sekarang adalah dua bagian lagi, yaitu:

  1. Pertama, yang penting dan tidak dikhawatirkan kehilangan kesempatan untuk melakukannya.

  2. Kedua, yang tidak penting namun dikhawatirkan kehilangan kesempatan untuk melakukannya.

Dua bagian terakhir ini sama-sama mempunyai alasan untuk didahulukan. Di sinilah lahir sikap ragu-ragu dan bingung memilih. Bila dia dahulukan yang penting, dia khawatir akan kehilangan kesempatan untuk yang lain. Namun bila dia mendahulukan yang lain, dia akan kehilangan sesuatu yang penting. Begitulah, kadang-kadang seseorang dihadapkan pada dua pilihan yang tidak mungkin dikumpulkan menjadi satu, yang mana salah satunya tidak dapat dicapai kecuali dengan mengorbankan yang lain.

Di sinilah, akal, nalar dan pengetahuan itu berperan. Di sini akan diketahui, siapa orang tinggi, siapa orang yang sukses dan siapa orang yang merugi. Kebanyakan orang yang mengagungkan akal dan pengetahuannya, akan Anda lihat dia mengorbankan sesuatu yang penting dan tidak khawatir kehilangan kesempatan untuk itu, demi melakukan sesuatu yang tidak penting yang tidak dikhawatirkan kehilangan kesempatan untuk melakukannya. Dan Anda tidak akan mendapatkan seorang pun yang selamat (dan terlepas) dari hal seperti itu. Hanya saja ada yang jarang dan ada pula yang sering menghadapinya.

Dan sebenarnya yang dapat dijadikan sebagai penentu pilihan dalam masalah ini adalah sebuah kaidah besar dan mendasar yang merupakan poros berputarnya aturan-aturan syari’at, dan juga pada kaidah inilah dikembalikan segala urusan. Kaidah itu adalah mendahulukan kemaslahatan yang lebih besar dan lebih tinggi dalam dua pilihan yang ada walaupun harus mengorbankan kemaslahatan yang lebih kecil- kemudian kaidah itu pula menyatakan bahwa kita memilih kemudharatan yang lebih ringan untuk mencegah terjadinya mudharat yang lebih besar.

Jadi, sebuah kemaslahatan akan dikorbankan dengan  tujuan mendapatkan kemaslahatan yang lebih besar, begitu pula sebuah kemudharatan akan dilakukan dengan tujuan mencegah terjadinya kemudharatan yang lebih besar.

Pikiran-pikiran serta ide-ide orang yang berakal itu tidak akan keluar dari apa yang kita jelaskan di atas. Dan karena itu datang berbagai syari’at atau aturan. Kemaslahatan dunia dan akhirat selalu didasarkan pada hal-hal tersebut. Dan pi-  kiran-pikiran serta ide-ide yang paling tinggi, paling mulia dan paling bermanfaat ialah yang  orientasinya untuk Allah I dan kebahagiaan di alam akhirat nanti.

()Dikutip dari : JANGAN DEKATI ZINA, karya Imam Ibnu Qayyim Al-jauziyah )

Sumber: www.mediamuslim.info

Eksploitasi Kaum Wanita Termasuk Maksiat – Dosa

Termasuk dalam deretan fitnah zaman sekarang adalah eksploitasi kaum wanita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan bahwa wanita itu adalah salah satu fitnah yang terbesar. Beliau bersabda: “Berhati-hatilah dari godaan dunia dan waspadai-lah rayuan kaum wanita, sebab fitnah pertama kali yang menimpa bani Israil adalah fitnah wanita.” (HR. Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut wanita sebagai fitnah (sumber godaan). Dan rasul juga telah mengabarkan bahwa bani Israil tersesat karena fitnah (godaan) wanita.

Pada zaman sekarang ini eksploitasi kaum wanita banyak tersebar di mana-mana. Mayoritas kaum hawa itu berani bersolek dan menampakkan lekuk tubuh mereka di pasar dan di jalan-jalan. Memamerkan segala macam asesioris dan perhiasannya.

Barangsiapa yang Allah kehendaki terkena goda-an, maka ia akan menyorotkan matanya atau melirikkan pandangannya kepada mereka (kaum wanita itu). Hing-ga dikhawatirkan ia akan terkena godaan daya tarik wanita itu dan terpedaya lantas timbul syahwat terlarang yang mendorongnya berbuat apa yang diharamkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu berzina! Atau pengantar kepada zina (seperti berdua-duan tanpa mahram, berpacaran dan lain-lain-pent). Memang, wanita adalah godaan yang paling besar!

Termasuk di antaranya eksploitasi kaum wanita melalui film-film. Ini merupakan musibah dan malape-taka besar.

Demikian pula foto-foto mereka di majalah, koran-koran dan sampul barang-barang tertentu. Mereka sengaja memilih wanita-wanita cantik agar menarik minat orang, khususnya para pemuda. Dan yang lebih berbahaya lagi adalah munculnya foto-foto mereka dalam keadaan bugil atau setengah bugil yang diproduksi dengan kamera-kamera canggih dan ditebar dengan parabola. Nas`alullah al-’afiyah was salaamah

Tidak diragukan lagi hal itu termasuk bencana ter-besar pada zaman sekarang ini. Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh. Barangsiapa mensucikan dirinya, pandangannya tidak akan tertuju kepada perkara haram itu. Dan tidak akan menuruti kehendak syahwat dalam hatinya kepada wanita-wanita itu. Barangsiapa dipelihara dan dijaga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya Dia akan menjauhkannya dari fitnah tersebut. Dan niscaya Dia akan memasukkannya ke dalam golongan orang-orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki kebaikan bagi diri mereka.

(Dikutip dari: MALAPETAKA AKHIR ZAMAN DAN CARA MENGATASINYA, Karya Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin)

Sumber: www.mediamuslim.info

Menenggak Minuman Keras & Merokok Termasuk Maksiat – Dosa

Meminum minuman keras termasuk fitnah (kemungkaran) besar yang banyak menimpa para pemuda Islam sekarang ini. Tidak hanya sebatas menenggaknya saja, bahkan mereka juga mengajak orang lain kepada kemungkaran yang besar ini. Setiap orang yang kecanduan minuman keras, pasti mengajak orang lain untuk mencicipinya. Sebab ia sudah terlanjur sayang dan suka serta menggandrunginya, karena itulah ia ingin agar semakin banyak orang yang mengikuti dan mem-bantunya. Sehingga tidak ada orang yang mencegahnya.

Ia akan berkata kepada orang yang mendakwahinya: “Mengapa Anda terlalu pelit terhadap diri sendiri? Mengapa Anda tidak ikut bersenang-senang menikmati kelezatan ini? Demikianlah ia terus merayu sehingga orang-orang yang jahil akan terperosok ke dalam perbuatan maksiat itu! Dan bila sudah jatuh ke dalamnya, ia akan terjerat sehingga sangat sulit untuk melepaskan diri. Jatuhlah ia ke dalam kemungkaran yang besar, yaitu meminum minuman keras.

 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu men-dapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamr (arak) dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (Al-Ma’idah: 90-91)

Yang sering sejalan dengan minuman keras adalah merokok. Meskipun para perokok belum tentu telah mencicipi minuman keras, namun kedua hal ini umumnya seperti setali tiga uang.

Mengisap rokok termasuk fitnah (wabah) besar yang pada hari ini tidak ada satupun rumah yang selamat dari asapnya! Kecanduan mengisap rokok telah melanda setiap lapisan baik orang dewasa maupun anak kecil, pria maupun wanita. Bukan sebatas itu saja, ternyata banyak juga oknum-oknum yang menyeru kepada wa-bah rokok yang lebih tepat disebut penyakit dan bala’!

Mengapa!

Sebab para perokok ingin agar semakin banyak orang yang kecanduan rokok. Sehingga tidak ada lagi orang yang berusaha mencegahnya. Ajakan para peng-isap rokok ini termasuk fitnah. Bila ia melihat seorang jahil, ia akan berusaha mempengaruhinya supaya merokok. Termasuk di antaranya beberapa orang yang terpengaruh merokok melalui teman-temannya yang candu merokok. Ia terpengaruh dengan jumlah mereka yang banyak tanpa melihat kepicikan dan kedangkalan akal dan faham para perokok itu. Lama-kelamaan ia akan mengikuti kebiasaan mereka. Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan bagi dirinya, niscaya Dia akan melindungi serta menjauhkannya dari pergaulan anak-anak nakal tersebut. Dan barangsiapa dipengaruhi mere-ka, maka hendaklah berhati-hati dan waspada terhadap ajakan dan seruan mereka. Sebab bahaya ini (bahaya mengisap rokok) telah merata di mana-mana dan telah meminta banyak korban.

(Dikutip dari: MALAPETAKA AKHIR ZAMAN DAN CARA MENGATASINYA, Karya Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin)

Sumber: www.mediamuslim.info

Penyeru Kepada Maksiat dan Dosa yang Besar Maupun Kecil

Oknum-oknum yang mengajak berbuat maksiat dan dosa yang besar maupun kecil sangat banyak berke-liaran pada zaman sekarang ini, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memperbanyak jumlah mereka. Banyak sekali fitnah dan musibah akibat kejahatan mereka. Mereka masuk ke mana-mana, di kalangan kaum Yahudi terdapat penyeru kepada maksiat, demikian pula halnya di kalangan kaum Nasrani, kaum musyrikin, kaum mulhidin kaum komunis, bahkan di kalangan kaum muslimin dan lebih khusus lagi di kalangan Ahlus Sunnah terdapat penyeru kepada maksiat. Demikian pula di kalangan kaum Syi’ah Rafidhah, Mu’tazilah dan kelompok-kelompok bid’ah lainnya, di kalangan mereka terdapat penyeru kepada maksiat.

Penyeru kepada maksiat lebih dominan daripada yang lain. Bencana yang mereka timbulkan juga lebih besar. Tidak ada jalan alternatif lain bagi seorang mus-lim untuk menyelamatkan dirinya dari bencana tersebut kecuali dengan menyadari bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengha-ramkan segala perbuatan maksiat. Dan hendaknya ia mengetahui bahwa oknum-oknum yang mengajak ber-buat maksiat pada hakikatnya mengajak supaya orang lain meniru mereka.

Tidak syak lagi, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan perkara yang halal dan perkara yang haram. Dan telah menetapkan sanksi dan hukuman atas perbuatan haram dan mengancam pelakunya dengan siksaan yang pedih. Di samping itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menganjurkan hamba-Nya berbuat taat dan berpegang teguh dengannya serta selalu me-ngerjakan amal-amal kebaikan. Dan Dia telah menjanji-kan pahala yang besar bagi yang mengamalkannya. Namun meski demikian, oknum-oknum yang menggan-drungi perbuatan dosa dan maksiat itu tetap ngotot menyebarkannya.

Jika hati bertanya, apa yang mereka inginkan di balik maksiat dan dosa yang mereka sebarkan ke mana-mana? Bukankah mereka mengetahui bahwa Allah telah mengharamkannya? Bukankah mereka juga menyadari bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengazab orang-orang yang berbuat maksiat? Lalu apa yang mereka inginkan?

Jawabnya: Itulah fitnah dan bala zaman sekarang! Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji hamba-hamba-Nya dengan fitnah tersebut. Barangsiapa selamat berarti merekalah orang-orang yang dikehendaki baik oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Barangsiapa binasa, maka merekalah orang-orang yang dikehendaki sesat oleh-Nya. Wal ‘Iyadzubillah

Sebagai keterangan tentang fitnah dan bahaya para penyeru kepada maksiat, berikut beberapa contoh orang-orang yang mengajak berbuat maksiat dan seruan yang mereka teriakkan, yaitu: meminum minuman keras, mendengarkan nyanyian dan alat-alat musik, mengisap rokok, eksploitasi kaum wanita, fitnah harta, fitnah ajakan kepada penyimpangan dan kesesatan, promosi-promosi terselubung. Berbagai fitnah tersebut diatas InsyaAllah dijelaskan secara ringkas pada artikel-artikel berikutnya. (Jadi tunggu aja dan simak selalu MediaIslam)

(Dikutip dari: MALAPETAKA AKHIR ZAMAN DAN CARA MENGATASINYA, Karya Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin)

Sumber: www.mediamuslim.info

Pandangan Pertama (Al-Lahazhat)

Yang satu ini bisa dikatakan sebagai ‘provokator’ syahwat atau ‘utusan’ syahwat. Oleh karenanya, menjaga pandangan merupakan pokok dalam usaha menjaga kemaluan. maka barangsiapa yang melepaskan pandangannya tanpa kendali, niscaya dia akan menjerumuskan dirinya sendiri pada jurang kebinasaan.

Rasulullah bersabda: “Janganlah kamu ikuti pandangan (pertama) itu dengan pandangan (berikutnya). Pandangan (pertama) itu boleh buat kamu, tapi tidak dengan pandangan  selanjutnya.”

Dan di dalam Musnad Imam Ahmad, diriwayatkan dari Rasulullah : “Pandangan itu adalah panah beracun dari panah-panah iblis. Maka barangsiapa yang memalingkan pandangannya dari kecantikan seorang wanita, ikhlas karena Allah, maka Allah akan memberikan di hatinya kelezatan sampai pada hari  Kiamat.” Inilah kurang lebih makna hadits tersebut.

Beliau juga bersabda: “Palingkanlah pandangan kalian dan jagalah kemaluan kalian.”

Dalam hadits lain beliau bersabda: “Janganlah kalian duduk-duduk di (tepi-tepi) jalan.” Mereka berkata: “Ya Rasulullah, tempat-tempat duduk kami pasti di tepi jalan.” Beliau bersabda: “Jika kalian memang harus melakukannya, maka hendaklah memberikan hak jalan itu.” Mereka bertanya: “Apa hak jalan itu?” Jawab beliau: “Memalingkan pandangan (dari hal yang dilarang Allah, pent), menyingkirkan gangguan dan menjawab salam.”

Pandangan adalah asal muasal seluruh musibah yang menimpa manusia. Sebab, pandangan itu akan melahirkan lintasan dalam benak, kemudian lintasan itu akan melahirkan pikiran, dan pikiran itulah yang melahirkan syahwat, dan dari syahwat itu timbullah keinginan. Kemudian keinginan ini menjadi kuat dan berubah menjadi niat yang bulat. Akhirnya, apa yang tadinya hanya melintas dalam pikiran menjadi kenyataan dan itu pasti akan terjadi selama tidak ada yang menghalanginya. Oleh karenanya, dikatakan oleh sebagian ahli hikmah, bahwa: “Bersabar dalam menahan pandangan mata (bebannya) adalah lebih ringan dibanding harus menanggung beban penderitaan yang ditimbulkannya.”

Seorang penyair mengatakan:
Setiap kejadian musibah(praktek zina) itu bermula dari pandangan, seperti kobaran api berasal dari percikan api yang kecil.
Betapa banyak pandangan yang berhasil menembus ke dalam hati pemiliknya, seperti tembusnya anak panah yang di lepaskan dari busur dan talinya.
Seorang hamba, selama dia masih mempunyai kelopak mata yang dia gunakan untuk memandang orang lain, maka dia berada pada posisi yang membahayakan.
(Dia memandang hal-hal yang) menyenangkan matanya tapi membahayakan jiwanya, maka janganlah kamu sambut kesenangan yang akan membawa malapetaka.  Sumber: www.mediamuslim.info

Laman Berikutnya »