Tasawwuf terpengaruh filsafat kuno dan kepercayaan Nasrani

Tidak diragukan lagi bahwa orang-orang tasawwuf yang percaya seperti itu mengenai Rasululah SAW, mereka bukan hanya terpenga­ruh oleh teori filosof-filosof kuno tentang teori penciptaan dan pendapat mereka bahwa ciptaan awal itu dengan haba’ / debu (atom), dan akal pertama, atau akal fa”aal (akal kreator)… tetapi mereka (orang tasawwuf) juga terpengaruh oleh apa yang dikatakan orang-orang Nasrani mengenai Nabi Isa. Dan tidak dirag­ukan lagi bahwa teori Nasrani mengenai Al-Masih itu terpengaruh pula dengan pendapat falasifah dalam hal “akal fa”aal” (akal kreator).

Orang-orang tasawwuf telah dapat menukil / mengambil alih teori ini walaupun diambil dari kesamarannya secara filsafat, dan sulitnya mendalili dengan dalil mantiq (logika) yang bisa diteri­ma akal, dan dengan keringnya teori ini dari aqidah Islam yang jelas lagi mudah.

Walaupun demikian (amburadulnya), namun orang tasawwuf dapat menjadikan kepercayaan (sesat dan syirik) ini menjadi akidah orang awam dan kebanyakan kaum Muslimin. Yang demikian itu karena dibuat ungkapan-ungkapan yang mudah, dan dalam syair yang mudah diucapkan dengan cepat seperti ucapan mereka:

“Laulaaka laulaaka maa kholaqtul aflaak!! (Seandainya tidak karena kamu (Muhammad), seandainya tidak karena kamu (Muhammad) pasti Aku tidak menciptakan planet-planet/ alam ini). (Al-Fikrus Shufi, hal 192).

Para muballigh di Indonesia, terutama orang sufi, hampir bisa dipastikan, mereka selalu mempidatokan bahkan mengkhutbahkan hadits palsu (laulaaka…) tersebut, dengan mereka sebutkan sebagai Hadits. Lebih-lebih di bulan Rabi’ul Awwal, atau ketika mereka memperingati Maulid Nabi SAW, suatu acara yang asalnya bikinan kaum Syi’ah itu. Pernah penulis menegur khatib yang berkhutbah membawakan hadits palsu tersebut pada tahun 1419H/1998M di suatu Masjid di dekat rumah di Jakarta, hingga tahun berikutnya, alhamdulillah dia tidak mengemukakannya lagi.

Ahli Hadits Syeikh Nasiruddin Al-Albani rahimahullah (wafat Jumadil Akhir 1420H) menjelaskan, “Laulaaka lamaa kholaqtul aflaak itu statusnya adalah hadits maudhu’ (palsu). As-Shaghani menyatakannya dalam kitab Al-Ahaditsul Maudhu’ah (Hadits-hadits palsu) halaman 7. Ibnu Asakir juga meriwayatkan hadits serupa yang telah dikeluarkan oleh Ibnul Jauzi dalam kitab Al-Maudhu’at (hadits-hadits palsu) seraya memastikan sebagai hadits maudhu’ (palsu).

Pemastian Ibnul Jauzi tersebut juga ditetapkan dan diakui oleh As-Suyuthi dalam kitab al-La’ali I/ 272. (Muhammad Nashiruddin Al-Albani, terjemah Silsilah Hadits Dha’if dan Maudhu’, Gema Insani Press Jakarta, Jilid I, Hadits Nomor 282, hala­man 229-230).

Syeikh Abdur Rahman Abdul Khaliq mengemukakan: “Suatu kali saya berkhutbah di masjid Nabawi (Madinah) pada sekitar tahun 1381M/1960M menjelaskan aqidah yang wajib mengenai Rasul SAW. Lalu seorang jama’ah haji yang sudah tua berdiri kepadaku dan berkata padaku: “Bukankah Allah Ta’ala berfirman: “Laulaaka laulaaka maa kholaqtul aflaak”. Maka aku jawab padanya: “Ini (laulaaka…) bukan ayat Al-Quran, dan juga bukan hadits, sedangkan kepercayaan (yang terkandung pada)nya itu adalah syirik billah (menyekutukan Allah)!!” Lihatlah bagaimana kepercayaan (batil, kufur, sesat dan syirik) ini berjalan pada lisan-lisan manusia dengan ucapan sajak yang dikira oleh orang awam sebagai Al-Quran, padahal bukan. (Al-Fikrus Shufi, hal 194).

sumber artikel; Tasawuf Belitan Iblis, Hartono Ahmad Jaiz

No comments yet

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: